BUDAYA TARI-TARIAN
TARI DINGGU
Menurut mitos masyarakat tolaki padi itu berasal dari jasad putri bidadari yang ketujuh yang mana turun kebumi. Setelah panen, sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa masyarakat Tolaki mengadakan sejenis Pesta Rakyat yang akan dihadiri oleh seluruh masyarakat yang berada ditempat itu.Untuk memperoleh beras yang cukup banyak maka diadakanlah MODINGGU, atau semacam pekerjaan massal untuk menumbuh padi yang dilakukan muda-mudi dikala senja sampai malam hari yang diterangi oleh sinar rembulan,dan akhiri lulo bersama guna melepas lelah setelah seharian bekerja keras.

TARI SUMAKU
Pada zaman dahulu, Masyarakat Suku Tolaki Mekongga mencari makan dengan bercocok tanam selain padi, terdapat pula sagu yang menjadi salah satu makanan pokoknya. Proses pembuatan sagu tersebut biasanya disebut Sumaku. Sumaku merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan namun dapat menghasilkan suatu produk makanan yang enak dan menggairahkan para penikmatnya, seperti Sinonggi atau yang lazimnya disebut Papeda, bahkan Sagu dapat diolah menjadi makanan ringan atau snack seperti Ongol-ongol, Cako-cako, Kue Bagea dan lain sebagainya. Oleh sekelompok masyarakat, menciptakan gerak dan Gaya Sumaku sebagai sebuah Tarian Tradisional.Tetapi akibat proses peradaban yang semakin moderen Semaku tidak terlihat dijaman sekarang ini. Hal itu disebabkan oleh adanya mesin-mesin pengolah Sagu yang telah mengganti kedudukan para Posaku. Oleh sebab itu untuk mengembalikan Somaku pada suatu proses tradisi maka, Tarian ini mencoba membuka lembaran masa lalu kita dengan menampilkan para Posakumuda dijaman Reformasi.